Belajar Sejarah, Belajar Mengambil Hikmah

Jaman sekolah dulu, saya kurang suka dengan mata pelajaran sejarah. Tiap kali masuk pelajaran sejarah, saya ngantuk. Tidak tertarik. Waktu ujian, saya kurang bisa. Memang saya kurang kuat di hafalan. Hafal muka orang saja saya susah, apalagi hafal teks. Haha.

Waktu kuliah, ketertarikan saya akan sejarah mulai muncul. Saya mulai kepincut membaca buku-buku atau film dokumenter atau box office tentang sejarah dunia. Ada sejarah nusantara, sejarah politik Roma, kisah Tiga Kerajaan (The Three Kingdoms), dll. Buku favorit saya adalah sejarah Tiga Kerajaan. Kalau film, saya suka seperti Enemy at the Gates, Red Cliff dll.

Saya di sini tidak membahas soal akurasi buku/film tersebut. Ada yang bilang, sejarah ditulis oleh pihak yang menang. Jadi tulisan yang kita baca adalah sudut pandang orang yang tulis. Pihak yang baik atau buruk terkadang menjadi sangat subjektif. Tergantung yang nulis, lebih mendukung siapa.

Yang buat saya tertarik adalah bagaimana kita bisa ambil pesan moral dari pelajaran tersebut. Dari sejarah Roma saya belajar bahwa di dalam politik, tidak ada teman sejati. Dari kisah Ramayana saya belajar tentang petuah-petuah hidup. Dari Tiga Kerajaan saya belajar tentang ilmu strategi dan kebijaksanaan. Kisah-kisah tersebut memang luar biasa menginspirasi.

Kenapa harus dipelajari? Supaya kita tidak mengulangi. Pernah ada yang bilang, belajarlah dari kesalahan orang lain. Hidup kita tidak akan cukup untuk melakukan semua kesalahan-kesalahan tersebut. Masuk akal toh? 😀

Dari sejarah perang dunia kita bisa melihat propaganda elit politik mempengaruhi rakyat untuk membenarkan tindakan mereka dalam berperang. Solusinya? Rakyat harus lebih melek informasi. Jangan mudah dibodoh-bodohin. Dari sejarah Barat kita melihat bahwa pola pikir rasisme hanya akan membuat perpecahan. Solusinya? Nikmatilah perbedaan.

Sayangnya saya sekarang sudah mulai jarang baca buku. Saya mulai mengganti dengan menonton film-film dokumenter. Kekurangannya, film dokumenter selalu mementingkan dramatisasi. Jadi sisi sejarahnya kadang-kadang agak kurang akurat. Memang sih, kalau tidak begitu, filmnya akan terkesan datar-datar saja.

Buat yang belum pernah baca sejarah, saran saya bolehlah coba sekali-sekali. Ada beberapa buku yang cara penyampaiannya sederhana. Jadi membacanya lebih enak. Toh tujuan saya hanya untuk ambil pesan moralnya, bukan bener-bener ngulik dalam ke fakta-fakta sejarahnya. Kalau sudah bicara soal klarifikasi fakta, memang bisa pusing juga. Haha.

Gimana, mulai tertarik baca sejarah?

Leave a Reply