Merekrut Freelancer, Solusi atau Bukan?

Gambar: talk-business.co.uk

Yang namanya hidup di dunia bisnis, mau tidak mau, kita berada di dunia hitung-hitungan. Hari ini kita bisa untung, besok bisa rugi. Hari ini ramai, besok bisa sepi. Selalu harus punya hitungan yang tepat, karena tidak ada kepastian ‘gaji’ di akhir bulan.

Ketika dunia usaha makin ketat, hitung-hitungan pun makin berat. Efisiensi-pun mulai dilakukan, demi menyeimbangkan pembukuan. Ketika bicara efisiensi, solusinya ada macam-macam. Salah satunya: karyawan freelance, atau biasa disebut freelancer. Tidak ada gaji bulanan, hanya dibayar sesuai porsi kerja. Bisa berbasis hitungan jam kerja, atau hitungan komisi dari omset.

Di sini keadaan mulai agak rumit.

Dari sini penerima kerja, freelance itu mengasyikkan. Kita bisa bebas memilih kapan, di mana dan bagaimana cara kita bekerja. Namun dari sisi pemberi kerja, berdasarkan pengalaman yang saya miliki, hal ini cenderung merepotkan. Kalimat yang susah dibantah adalah “Toh kalau saya tidak kerja, saya tidak dibayar. Terserah saya dong, mau kerja apa tidak.” Bahasanya mungkin bisa berbeda, tapi kasarnya kira-kira begitu.

Saya tidak tertarik menjalankan usaha yang mengandalkan orang-orang freelance. Mengelolanya ribet. Saya tidak bisa kontrol 100% alur kerja. Komitmennya tidak bisa saya pegang. Saat mereka mau kerja, mereka ada. Kalau tidak mau, ya saya tidak punya kuasa untuk menggerakkan. Ketika pekerjaan sedang banyak, sedangkan karyawan sedang tidak mau ambil peran, repotlah kita. Hanya bisa mengelus dada.

Buat saya, lebih nyaman mengelola karyawan bergaji tetap. Kalau benar, bisa langsung saya apresiasi. Kalau aneh-aneh, bisa langsung saya pecat. Komitmen orang-orang yang digaji lebih bisa dipegang dan dipertanggungjawabkan. Memang, jadi ada biaya operasional yang besar. Justru di situlah tantangannya. Bagaimana supaya gaji sebanding dengan kinerja.

Rumit ya? Yah, namanya juga hitung-hitungan. 😀

 

Leave a Reply