Yakin Mau Buka Bisnis Kuliner?

Gambar: bisnismakanan.com

Usaha di bidang kuliner itu, peminatnya banyak sekali. Pertumbuhannya juga pesat sekali, khususnya untuk di kota Bandung. Mulai dari yang bermodal besar, sampai yang bermodal pas-pasan. Mulai dari yang restoran besar sampai warung pinggir jalan. Dari menu kreatif sampai menu tradisional. Ada. Lengkap.

Iseng-iseng, saya coba cari-cari info apa yang jadi motivasi sebagian besar pengusaha untuk memulai usaha kuliner. Supaya pembahasannya tidak ke mana-mana, saya batasi bahwa yang dibahas di sini adalah usaha kuliner level UKM. Rata-rata responden berkonsep kedai sederhana atau gerobak pinggir jalan.

Jadi, ada tiga hal besar yang selalu jadi alasan seseorang memulai usaha di bidang kuliner, yaitu:

  1. Menjanjikan
  2. Tiap hari pasti ada yang beli
  3. Untung bisa 100% dari modal

Bagi yang sedang merencanakan memulai usaha kuliner, kemungkinan besar sudah percaya ketiga hal tersebut. Ketiga item tersebut di atas memang cukup menggiurkan. Tapi sayangnya, infonya tidak cukup lengkap. Begini alasannya.

Menjanjikan — Coba kita meluangkan waktu sejenak melihat-lihat sekitar. Ada berapa usaha makanan di daerah kita yang bisa bertahan lama? Level UKM ya, seperti yang dijelaskan di atas. Faktanya, ada teman-teman yang bisa bertahan lama dan berkembang besar, ada juga yang tumbang dan beralih profesi. Menjanjikan? Tidak ada siapapun yang bisa menjanjikanmu apa-apa. Enter at your own risk.

Tiap hari pasti ada aja yang beli — Tidak ada jaminan. Saya sudah pernah melihat teman yang penjualan seharinya bisa sama sekali tidak ada. Miris memang, tapi untuk membuat satu produk laku, faktornya banyak sekali. Dari sisi pengusaha, ada kualitas produk, pelayanan, strategi promosi, harga, kompetitor dll. Dari sisi konsumen, ada selera dan faktor ekonomi. Kalau semua harga kebutuhan pada naik, dan konsumen lebih memilih nabung ketimbang jajan, apa mau dikata?

Untung bisa 100% dari modal — Bisa jadi. Tapi silahkan coba hitung sendiri. Untuk level UKM seperti yang dijelaskan di atas, rata-rata menjual di angka belasan ribu. Untuk harga jual Rp 15.000, anggaplah modalnya Rp 7.500, untungnya Rp 7.500. Untung 100% dari modal? Benar, tapi seratus persen itu besarnya adalah Rp 7.500. Dengan untung Rp 7.500 per porsi, kita membayar pegawai, sewa tempat, listrik, air dll. Anggap kita buka kedai sederhana yang berlokasi agak ke tengah kota, yang nilai sewanya saja bisa menyentuh belasan hingga puluhan juta setahun, berapa porsikah yang harus terjual setiap harinya?

Tulisan ini dibuat bukan untuk menakut-nakuti. Saya kepingin ada informasi yang bisa menjadi penyeimbang tulisan-tulisan yang beredar di luar tentang manisnya membuka usaha. Banyak juga orang yang tahu memulai usaha itu tidak mudah, tapi tidak banyak yang punya informasi, ‘tidak mudah’-nya itu seperti apa. Akibatnya, banyak yang memulai usaha tanpa mengetahui info ini akhirnya kaget dan tumbang. Minimal saya coba berkontribusi memberi gambaran bagaimana rasanya memulai berbisnis kuliner.

Semoga bermanfaat.

NB: Tulisan ini diambil dari web Rapatata, dengan penyesuaian seperlunya.

Leave a Reply