Memotret Makanan Sebelum Makan, Ya atau Tidak?

Gambar: vance.nl

Ini soal sudut pandang.

Saya sering membaca argumen pro dan kontra di Internet tentang memotret makanan sebelum makan. Ada yang bilang itu pamer. Ada yang bilang itu hanya untuk seru-seruan. Macem-macem.

Saya tidak tertarik untuk menentukan yang mana yang benar dan salah. Saya hanya ingin memberikan satu sudut pandang, sebagai pertimbangan. Pilihan ada di kita masing-masing.

Dari pengalaman saya membuka usaha kuliner, saya tahu seberapa sulitnya seorang pengusaha kuliner untuk bersaing di lingkungan usaha yang ketat. Salah satu yang butuh perhatian yang cukup tinggi adalah di sisi pemasaran. Semua saling adu kreativitas, bagaimana caranya supaya produk mereka bisa sampai ke telinga konsumen.

Salah satu metode pemasaran yang favorit adalah mulut ke mulut. Metode ini lambat, tapi efektif. Hal ini dikarenakan orang-orang cenderung lebih percaya pada rekomendasi dari orang yang mereka┬ákenal. Mungkin kita kenal dengan istilah “Anda puas beritahu teman, tidak puas beritahu kami.” Sebegitu pentingnya rekomendasi itu.

Memotret makanan dan mengunggahnya di media sosial adalah salah satu bentuk pemasaran ‘mulut ke mulut’ era┬ádigital. Hanya saja, media sosial membuat teknik pemasaran ini yang tadinya lambat jadi super cepat. Sekali kita unggah foto di media sosial, ratusan bahkan ribuan teman kita melihat!

Jadi, dari sudut pandang ini, ada hal positif yang bisa dipetik. Dengan memotret makanan sebelum makan, kita bukan pamer, melainkan membantu mereka jualan. Seandainya hasil unggahan kita di media sosial bisa bikin teman-teman kita ikut nyobain juga, bukankah itu bagus? Kalau kita berbuat sesuatu demi kemajuan orang lain, bukankah itu menyenangkan?

Lalu, bagaimana sudut pandangmu?

Leave a Reply