Ospek Lagi, Kekerasan Lagi

Gambar: sindonews.net

Belakangan sedang marak pemberitaan soal mahasiswa UII yang tewas karena kegiatan sejenis ospek (sumber). Dunia pendidikan kembali berkabung. Berkabung untuk hal yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Saya termasuk mantan mahasiswa yang tegas menolak kegiatan ospek (atau apapun namanya sekarang). Bahkan dulu kami seangkatan pernah demo untuk menolak ospek di kampus. Sayang saya tidak bisa temukan tautan beritanya di Internet.

Supaya tulisan saya ini tidak bersifat menuduh tanpa data, saya tidak akan memperdalam pembahasan tentang UII. Saya fokus membahas tentang kekerasan di dalam ospek saja, yang memang sudah pernah saya alami.

Kekerasan di dalam ospek memang macam-macam. Mulai dari kekerasan verbal (membentak) sampai ke kekerasan fisik (memukul). Mau itu verbal ataupun fisik, sikap saya tetap sama: kekerasan di dalam ospek tidak ada gunanya. Kenapa? Begini alasannya:

  1. Tidak ada korelasinya dengan persiapan di dunia kerja. Hal yang paling digaungkan untuk membenarkan kekerasan di dalam ospek adalah bahwa sang junior harus mau dipersiapkan menghadapi dunia kerja. Yang jadi masalah, si ‘senior’ yang ‘mempersiapkan’ ini, juga belum pernah menghadapi dunia kerja. Mereka juga masih kuliah! Lalu, setelah sekian tahun berlalu, pencapaian senior-senior yang kasar tersebut di dunia kerja juga tidak gemilang. Lalu, pembelajaran apa yang ingin disampaikan?
  2. Bukan pengikat keakraban suatu angkatan. Konon katanya, semakin berat ospeknya, angkatan tersebut semakin kompak. Alhasil, nanti di dunia kerja, sesama angkatan bisa saling bantu. Menurut saya ini tidak ada hubungannya. Kalau memang bisa kerja, pasti dipakai. Kalau tidak, ya tidak.
  3. Asal gembleng, tanpa tenaga medis yang mumpuni. Ini yang fatal. Pada umumnya puncak kegiatan ospek dilakukan di luar kampus. Di sinilah kekerasan umumnya terjadi tanpa pengawasan. Sayangnya, sang junior harus melalui itu semua tanpa pengawasan oleh tenaga medis yang memadai. Alhasil, kalau ada kasus (misalnya sesak nafas), terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan.

Entah bagaimana hal ini bisa terjadi pada awalnya, saya juga tidak tahu. Tapi yang pasti, kekerasan di dunia pendidikan masih juga terjadi. Ini mengkhawatirkan. Bukan hal yang bisa dipandang sebelah mata.

Apa yang bisa dilakukan? Pertama, pihak kampus tentunya harus lebih bisa mengontrol kegiatan internal kampusnya, khususnya di periode-periode penerimaan mahasiswa baru. Kedua, buat mahasiswa baru, jangan mau disugesti bahwa kalian harus mengikuti ospek kekerasan jika ingin sukses di masa depan. Jika menurutmu kegiatannya sudah tidak wajar, tinggalkan saja. Lalu laporkan ke kampus.

Masa depanmu tergantung di tanganmu, bukan di tangan si senior kasar. Belum tentu juga masa depan mereka lebih baik darimu. Percaya diri saja dan belajar yang rajin.

Mudah-mudahan kegiatan serupa tidak terjadi lagi. Sudah cukup banyak nyawa yang hilang karena pola pikir yang ketinggalan jaman itu.

Sekali lagi, ospek (terutama yang pakai kekerasan) itu tidak ada gunanya dan tidak perlu diikuti.

Leave a Reply