Pahit Manis Roda Bisnis

Gambar: alperlaw.com

Dunia bisnis memang bukan dunia yang mudah untuk dijalani. Pasar selalu bergerak dinamis, meninggalkan pelaku-pelaku yang kurang bisa beradaptasi. Berinovasi atau mati (innovate or die), begitu kata pepatah.

Sejarah-pun sudah mencatat kejadian-kejadian unik seputar tersandungnya perusahaan-perusahaan besar. Beberapa contoh yang mencolok adalah:

  • Kodak yang bangkrut di era foto digital karena produk utamanya (film dan percetakan foto) tidak laku lagi
  • Reader’s Digest yang kalah bersaing dan bangkrut ketika tidak bisa beradaptasi dengan generasi pembaca yang lebih muda
  • Friendster yang kalah pamor ketika Facebook muncul
  • dll

Kondisi-kondisi serupa juga masih sering terlihat di kondisi sekarang. Lihat saja Twitter yang mulai kewalahan untuk bersaing di dunia media sosial, lalu Yahoo yang semakin kehilangan daya saing dengan Google dan Facebook.

Dari sini kita bisa belajar bahwa tidak ada kepastian di dalam menjalankan sebuah bisnis. Yang saat ini sedang di atas, tidak boleh jemawa karena besok bisa muncul banyak pesaing. Yang saat ini sedang di bawah, tidak boleh rendah diri karena bisa saja besok langsung bersinar.

Insting dalam mengambil keputusan yang tepat dari pemilik perusahaan memang sangat dibutuhkan. Friendster dulu sempat menolak tawaran untuk dibeli oleh Google, yang ternyata merupakan keputusan yang salah. Facebook dulu sempat menolak tawaran untuk dibeli oleh Yahoo, yang ternyata merupakan keputusan yang tepat.

Walau demikian, buat pengusaha yang berpikiran positif, bangkrut bukan berarti kegagalan. Saya sendiri pernah mengalami kebangkrutan, namun bangkrut itu ternyata adalah guru yang hebat! Dari seluruh ilmu yang saya dapatkan selama menjalani bisnis, pengalaman bangkrut-lah yang memberi ilmu paling banyak. 😀

Begitulah memang, seni yang menyenangkan dalam berbisnis. Kadang kita di atas, kadang di bawah. Kadang kita menang, kadang kita belajar. Kita nikmati saja setiap langkahnya. Yang penting, kita selalu melangkah maju.

Itu.

Leave a Reply