Jualan Bohong

Gambar: socbizsymposium.com

Sebagai seorang marketer, saya hidup di dunia di mana kita dituntut untuk bisa meyakinkan calon konsumen. Ada pembeli yang butuh pendekatan yang lebih rasional, ada yang butuh pendekatan yang lebih emosional. Beda konsumen, beda karakter. Pada akhirnya, jika berhasil, proses tersebut akan ditutup dengan transaksi.

Yang jadi pertanyaan adalah, seberapa jujur seorang marketer di dalam meyakinkan konsumen tersebut? Salah satu tipe marketer menekankan pada hal-hal positif untuk mengalahkan hal-hal negatif dari suatu produk. Dengan kata lain, hal positif dan negatif tetap disampaikan, sesuai porsinya. Tipe lain, menekankan pada hal-hal positif (bahkan cenderung mengada-ada) dengan menutupi hal-hal negatif. Dengan kata lain, jualan bohong.

Saya pribadi cenderung lebih menyukai tipe pertama. Alasannya, selain ingin mendapatkan transaksi, saya ingin mendapatkan rekomendasi dari konsumen tersebut, ke teman-temannya. Rekomendasi tersebut hanya akan didapat jika konsumen tersebut puas akan pelayanan yang kita berikan. Kalau jualan bohong, biasanya transaksi bisa cepat terjadi, tapi kecil kemungkinan berulang. Konsumennya kapok.

Jualan bohong mungkin bisa diterapkan pada konsumen-konsumen yang kurang melek informasi. Konsumen yang malas cari perbandingan dan mudah percaya omongan orang, jadi sasaran empuk marketer bohong tersebut. Sebagai konsumen, bagaimana cara supaya tidak dibohongi? Tentunya banyak gali informasi. Toh di Internet informasi apa saja juga ada.

Bagaimana pendapatmu? 😀

Leave a Reply