Menyiram si Api Kecil

Jakarta memanas, Indonesia memanas.

Situasi politik belakangan ini memang luar biasa. Persaingan politik di Ibukota bisa membuat seluruh masyarakat Indonesia hanyut dalam pusaran perdebatan. Pemberitaan yang luar biasa besar di media, dibumbui dengan perdebatan di media sosial, membuat bara persaingan itu semakin menyala. Energi kita terkuras. Masyarakat-pun mulai lelah.

Kalau sumber perdebatan kita ibaratkan ‘api’, maka media dan media sosial adalah ‘minyak’-nya. Kalau kita baca sejarah perang jaman dahulu, minyak-nya itu terbatas. Biasanya dalam bentuk selebaran-selebaran, seruan-seruan di siaran radio atau pengiriman mata-mata untuk menyebarkan berita palsu (hoax) atau propaganda. Cara ini masih dipakai sampai sekarang. Hanya saja, minyak media dan media sosial membuat apinya menyebar jauh lebih cepat. Secepat kita meng-klik tombol share.

Saya harus bilang, otak dari segala keributan ini sangat luar biasa cerdas. Hal ini bisa dilihat dari nama-nama yang ada di belakang para pihak yang sedang berkompetisi. Latar belakang pendidikannya tidak main-main. Orang-orang seperti ini sangat lihai mempermainkan bahasa, sehingga setiap orang bisa dipoles menjadi apapun. Tergantung kebutuhan. Pertanyaannya tinggal siapa yang punya cara yang lebih jujur.

Yang jadi pihak paling dirugikan, tentu saja masyarakat umum. Kita mau tidak mau terus menerus melihat perdebatan itu di media maupun media sosial. Kadang sebagian dari kita tidak kuasa untuk menahan diri, sehingga ikut berpartisipasi berdebat. Sang otak keributan hanya mengeluarkan satu-dua kalimat, masyarakat di level bawah saling memaki. Saling terpecah belah. Kasihan.

Dalam tulisan kali ini, saya tidak berusaha memberitahu apa yang harus dilakukan. Saya biarkan itu menjadi sikap masing-masing. Saya hanya ingin memberi ilustrasi. Saat ini, ada orang pintar yang menyalakan api kecil ke tengah-tengah masyarakat. Kita bisa pilih: menyiramnya dengan minyak atau dengan air. 

Kamu pilih yang mana?

Leave a Reply