Menjauhi Lampu Sorot

Gambar: iopasolutions.com

Mungkin, salah satu kata yang paling dicari di jaman sekarang adalah ‘eksis’. Eksis di dunia nyata maupun dunia maya. Kalau di dunia nyata, salah satu tolak ukurnya adalah seberapa banyak liputan media terhadap kita. Kalau di dunia maya, tolak ukurnya adalah jumlah followers.

Eksis itu menyenangkan memang. Kenapa saya bisa tahu? Karena saya pernah di posisi itu. Memang belum setenar artis-artis di TV, tapi setidaknya saya bisa mencicipi sedikit gimana rasanya jadi mereka. Kita berada di lampu sorot. Banyak yang melihat. Soal melihat dengan kagum atau mencela, ya itu urusan yang melihat lah. Lovers will love, haters will hate. 😀

Ternyata, eksis itu hanya sebatas di pencitraan saja. Hal-hal yang terjadi di belakang layar bisa jauh berbeda dari yang dilihat orang dari luar. Sayapun akhirnya sampai di satu titik balik. Saya mulai merasa pencitraan yang didapat tidak sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan. Saya lalu mulai menjauhi lampu sorot.

Hidup di luar lampu sorot ternyata jauh lebih menenangkan. Tidak perlu hingar bingar. Tidak perlu puji-pujian. Tidak perlu liputan. Tidak perlu memikirkan komentar orang. Saya lalu menemukan keseimbangan. Hidup jauh lebih tenang, lebih damai, lebih sehat.

Saya ingat dulu Pak Budi Rahardjo pernah tulis status di FB, kira-kira begini: “Anak muda sekarang selalu mencari followers. Padahal, kita tidak perlu terkenal. Yang penting, selesaikan pekerjaan. Get the job done.” Sayang saya tidak sempat capture statusnya. Kalau cari lagi, sepertinya sudah terlalu jauh. 😀

Jadi, buat kamu-kamu yang sedang berusaha keras untuk masuk ke lampu sorot, coba dipertimbangkan lagi. Kehidupan di bawah lampu sorot tidak seindah kelihatannya. Tidak perlu terlihat hebat. Yang penting, bekerja hebat. Selesaikan pekerjaanmu. Get the job done.

Itu.

 

Leave a Reply