Perut yang Kenyang Tidak Mencari Makanan

Gambar: thebarbellbattalion.com

Perut yang kenyang tidak mencari makanan

Begitu kira-kira suatu pesan yang menempel di kepala saya ketika menghadiri sebuah seminar motivasi. Seminarnya sudah lama sekali. Pembicaranya siapa, saya juga sudah lupa. Ikutnya juga kebetulan, karena niatnya hanya ingin tahu. Haha. Tapi, pesan itu menempel sekali. Apa maksudnya?

Begini.

Kita pasti pernah merasa lapar berat. Yang harusnya makan siang jam 12, sampai jam 3 sore kita masih belum makan. Pikiran menerawang. Nasi goreng, mie rebus, gulai ayam, semua ada di kepala. Semuanya mau. Sampai ke meja makan, pesan sana-sini membabi buta. Baru makan sedikit, perut sudah kenyang. Sisanya dipaksa habiskan, atau dibungkus.

Prinsipnya, kalau kita butuh, kita cari sampai dapat. Semakin kita butuh, semakin kita kalap. Kalau sudah dapat, ya sudah. Kita sudah puas. Pikiran tenang. Makanya orang lapar lebih galak daripada orang yang sudah kenyang.

Ternyata, di dalam kampus kehidupan ini, situasinya kurang lebih sama: Orang yang suka cari muka, biasanya yang merasa kurang diperhatikan. Orang yang suka mencela, biasanya yang merasa kurang dipuji. Orang yang suka iri, biasanya yang merasa kurang reputasi. Orang yang tiap 5 menit posting di sosmed, biasanya yang kurang kerjaan. Haha.

Jadi kalau kamu merasa selalu gusar, mungkin memang ada ‘lapar’-mu yang belum dipuaskan. Bagaimana solusinya? Kalau tiap hari sudah bilang ‘pengen resign dari pekerjaan’, ya resign saja. Kalau sudah bilang ‘pengen memulai bisnis’, ya mulailah. Kalau sudah bilang ‘bosan begini-begini saja’, ya lakukanlah hal baru.

Makanya saya suka sekali melihat penampilan pekerja seni. Walaupun saya tahu jalan hidup mereka tidak mudah, tapi terlihat semangat mereka dalam bekerja. Kerjanya iklas. Semangatnya jauh lebih membara. Auranya positif.

Hidupmu terlalu singkat untuk dipakai melakukan sesuatu yang kamu tidak suka. Tidak ada gunanya hidup di dalam tekanan batin. Tidak ada kewajiban untuk hidup di dalam gambaran ‘normal’ orang pada umumnya.

‘Normal’ itu seragam, sementara kebahagiaan itu sejatinya berbeda-beda tiap orang. Tidak ada ‘kebahagiaan yang seragam’. Bahagia buat orang, belum tentu bahagia buat kita. Memang begitu cara kerjanya.

Kalau batinmu terpuaskan, hidupmu tenang. Aura positif juga terpancar. Hidupnya lebih damai. Inspirasi mengalir. Yang penting kita tidak ganggu orang, tidak melanggar etika dan tidak melanggar hukum.

Jadi pertanyaannya sekarang adalah: sudahkah engkau menikmati hidupmu? Sudahkah kenyang perutmu?

Kalau belum, sekarang kamu tahu harus berbuat apa. 😉

Leave a Reply