Haruskah Founder Diberi Kuasa Terbesar Mengambil Keputusan?

Gambar: techhive.com

Jadi ceritanya, kemarin saya baca sebuah artikel menarik di Wired.com (klik di sini). Artikel tersebut membahas tentang badai masalah yang tengah menimpa Uber dan betapa sang founder (pendiri perusahaan) selalu ‘dipuja’ di perusahaannya. Dari artikel itu, ditariklah satu pertanyaan utama: haruskah founder selalu diberi kuasa terbesar mengambil keputusan?

Jawaban dari pertanyaan tersebut tentu bermacam-macam. Tergantung sudut pandang si penjawab. Opini-opini yang ditulis di artikel cenderung menjawab tidak. Mereka menilai, kuasa besar founder mengandung resiko yang tinggi. Idealnya harus ada jajaran direksi yang netral dan punya posisi lebih kuat, sebagai penyeimbang. Ketika keadaan berubah buruk, founder harus bisa digeser.

Kalau kita ambil sudut pandang investor, cara berpikir seperti itu mungkin lebih baik. Hal ini demi menjamin keamanan dana yang kita berikan. Jika founder mulai ngeyel, digeser saja. Jangan sampai bisnis merugi. Contoh kasus: Thomas Alfa Edison di General Electric atau Steve Jobs di Apple.

Buat saya pribadi, saya cenderung lebih suka dengan konsep yang sedang berjalan. Founder memang harus diberi kuasa paling besar. Bagaimanapun juga, jatuh bangunnya perusahaan tidak lepas dari campur tangannya. Tidak bisa dilepas begitu saja ketika keadaan merugi.

Saya pernah mengalami periode bisnis yang buruk, sampai akhirnya harus saya tutup. Sebagai founder, saya ingin jadi orang yang memutuskan masa depan bisnis saya. Seandainyapun harus tutup, keputusan itu harus ada di tangan saya. Bukan di tangan orang lain. Kenapa? Karena selain bisnis, sayanya juga harus berkembang. Dengan menghadapi kondisi sulit, saya menyerap ilmu yang banyak. Bahkan ketika keputusannya adalah gulung tikar.

Cara berpikir saya mungkin memang cukup beresiko bagi investor. Karena itulah saya selalu memilih jalan bertahap dalam berbisnis. Kecil-kecil, selama ujungnya bisa jadi bukit. Tidak perlu buru-buru langsung cari dana besar, karena itu artinya kepalanya jadi banyak! Pusing! Haha. Yang penting, setiap langkah kecil itu dapat saya serap sepenuhnya. Toh juga saya masih belajar. Saya menikmati belajar dari kesalahan sendiri.

Pada akhirnya, semua berpulang ke sikap masing-masing. Setiap orang punya gaya sendiri-sendiri. Yang cocok ke orang lain, belum tentu cocok di kita. Yang penting, setiap hari kita buat kemajuan. Sampai akhirnya sampai di tujuan.

Itu.

Leave a Reply