Internet, (Masih) Belum Cocok untuk Debat

Gambar: advertisingweek.com

Fenomena debat-debat di Internet masih saja ada. Bukannya mereda, pesertanya justru makin banyak! Dari yang awalnya cuma beberapa orang, menyebar ke orang-orang lain yang awalnya diam. Sepertinya debat Internet ini sejenis wabah penyakit yang penyebarannya sangat cepat. Menular via kabel serat optik. Haha.

Saya sendiri bukan penggemar debat, terutama debat Internet. Internet, terlepas dari teknologinya yang makin canggih, masih belum bisa menyediakan fasilitas yang cukup buat berdebat. Untuk menjelaskan argumen, tidak cukup hanya dengan tulisan, tautan, gambar dan emoticon. Kita juga butuh gestur, raut muka, bahkan mungkin alat peraga. Tanpa teknik penyampaian yang lengkap, miskomunikasi sangat mudah terjadi.

Pernah dengar hukum Poe (Poe’s Law)? Kalau belum, boleh baca sedikit di sini.

Pada prinsipnya, hukum Poe menyatakan bahwa dalam komunikasi di Internet, tidak bisa kita tentukan siapa yang sedang bercanda. Orang mudah salah mengerti. Satu kalimat yang ambigu dapat membuat orang lain tersinggung. Berujung pada kasus hukum pula. Pembicaraan yang mungkin bermaksud pribadi dan lucu, ketika di-share ke orang banyak, malah memicu perdebatan. Ribut lagi.

Yang niatnya bercanda saja, bisa salah dimengerti. Apalagi yang niatnya debat. Pertanyaannya, haruskah kita tunggu Internet kasih fasilitas yang lengkap untuk debat? Atau kita bisa lebih menahan diri untuk berdebat di Internet? Kalau memang harus berdebat, sepertinya lebih tepat dilakukan dengan tatap muka. Biasanya justru situasinya lebih cair. Apalagi kalau ada makanannya. 😀

Saya tidak sedang berusaha untuk ngajarin siapapun. Saya cuma mau sampaikan bahwa debat-debat yang terjadi di Internet itu sudah banyak mengganggu pertemanan. Sebegitu butuhnya kita dianggap pintar dan benar, sampai-sampai kita pakai mental “senggol bacok”.

Seandainya-pun kamu menang debat, kalau harus bikin orang terdekatmu tersinggung dan menjauh, sebetulnya manfaat apa yang didapat?

 

Leave a Reply