Keluar dari Ikatan Logika, ala Surealisme

Tidak pernah bosan buat saya untuk buka pikiran terhadap berbagai filosofi yang beredar di luar sana. Banyak yang memusingkan tanpa makna, memang. Tapi ada juga beberapa yang unik. Salah satunya, filosofi dalam seni yang bernama surealisme (surrealism).

Saya sendiri belum begitu dalam memahami seni ini. Sejauh yang saya tahu, gerakan ini pertama ditemukan oleh Andre Breton, walau nama “surrealism” sendiri baru ditemukan di tahun 1917 oleh Guillaume Apollinaire (sumber). Gerakan ini mencoba mengangkat setinggi mungkin imajinasi, melepas logika-logika yang sudah tertanam, sambil menuangkannya di dalam sebuah karya dan menyampaikan sebuah pesan. Mungkin kata yang cocok dipakai adalah: aneh.

Salah satu seniman yang terkenal di bidang ini adalah Salvador Dali. Foto yang saya tampilkan di artikel ini merupakan karya ikoniknya pada tahun 1931 yang berjudul The Persistence of Memory.

Pemahaman dari karya Dali ini bisa sangat liar, tergantung sudut pandang penikmatnya. Tapi pada dasarnya, Dali mencoba menghapus logika-logika yang sudah kita terima, lalu membiarkan imajinasinya yang berbicara. Di sebelah kiri atas, ada pohon tandus yang tumbuh di objek kotak. Di belakang, ada laut tanpa ombak. Di sebelah kiri bawah, ada jam yang digigit semut. Di tengah, ada siluet wajah orang yang tidak sempurna. Apa pesan yang ingin dia sampaikan? Saya belum paham. Ilmu saya belum sampai. 😀

Setidaknya, buat saya, pemahaman ini mengingatkan saya betapa saya tumbuh dengan sangat mengedepankan logika. Semua disajikan terstruktur, rasional dan dapat ditebak. Surealisme menawarkan pemahaman yang jauh berbeda. Sebagai sebuah karya seni, menurut saya ini sangat menghibur, walaupun awalnya cukup memusingkan. Sesekali logika saya juga butuh istirahat. Haha.

Pemahaman dari surealisme ini ternyata ada macam-macam juga. Ada yang hitam-putih menyeramkan (karena yang aneh umumnya dianggap menyeramkan), tapi ada juga yang warna-warni ceria. Saya pilih untuk menikmati yang warna-warni saja. Lebih menyenangkan. Toh saya sekedar penikmat, bukan pelaku. Hehe. Balik lagi, seni itu soal selera.

Leave a Reply