Kenapa Harus Belajar Filsafat Ilmu Pengetahuan?

Sumber: ministryinsights.com
Gambar: ministryinsights.com

Kenapa Harus Belajar Filsafat Ilmu Pengetahuan?

Pertanyaan itu cukup sering ditanyakan orang-orang. Sebagian karena ingin tahu, tapi sebagian besar merasa itu hal yang sia-sia. Di benak kebanyakan orang, filsafat merupakan ilmu yang membingungkan. Ilmu ini membahas hal yang terlalu dalam, menanyakan yang tidak perlu ditanyakan, sampai akhirnya buat orang yang mendalaminya jadi gila. Jadi buat apa dipelajari? Buang waktu.

Buat saya pribadi, awalnya juga saya berpikiran serupa. Saya cenderung tidak tertarik membahas filsafat, karena kesannya “terlalu serius”. Apalagi, orang-orang sekitar saya juga tidak tertarik. Jadi menurut saya itu tidak penting. Sampai kemudian di tahun 2010 saya –mau tidak mau- harus belajar filsafat ilmu pengetahuan. Tak disangka, begitu masuk, saya langsung kepincut.

Ternyata, jika alam diibaratkan keping-keping puzzle, kita baru punya beberapa keping saja. Kita tahu tomat warnanya merah, tapi tidak tahu kenapa dia merah. Kita tahu capung bisa terbang, tapi tidak tahu persis bagaimana caranya. Bukan sekedar tidak tahu, tapi kita tidak peduli.

Dalam kehidupan bersosial, sayangnya, kita dibentuk untuk lebih sedikit bertanya. Banyak hal yang dijelaskan dengan kalimat sederhana: “pokoknya begitu” atau “katanya begitu”. Rasa penasaran kita diredam. Dengan belajar filsafat ilmu pengetahuan, kita didorong untuk lebih cari tahu. Dengan lebih tahu, kita lebih mengerti. Dengan lebih mengerti, puzzle kita makin lengkap. Gambaran besarnya lebih terlihat. Pengambilan keputusan bisa lebih baik; tidak lagi sekedar karena “katanya”.

Filsafat ilmu pengetahuan pada dasarnya membentuk pola pikir. Setelah kita didorong untuk lebih penasaran dan cari tahu, kita juga didorong untuk mengemukakan suatu gagasan baru, lalu mengujinya berulang sampai ketemu gagasan yang lebih baik. Ketika kita sudah tahu dan bisa kasih gagasan yang terbukti lebih baik dari sebelumnya, di situlah kita berkembang.

Sedihnya, ketika kita makin banyak cari tahu dan makin banyak gagasan, biasanya kita semakin “berbeda” dari orang umum. Kenapa? Jawabannya kembali ke paragraf pertama: orang-orang menganggap kita melakukan hal yang sia-sia. Tapi ya tidak apa. Namanya kita menguji gagasan. Ketika gagasan kita gagal, coba yang lain. Ketika gagasan kita terbukti berhasil, mereka akan mengerti.

Yang jelas, kalau kita tidak pernah mencoba sesuatu yang baru, kita akan di situ-situ saja. Kita harus berkembang. Buat apa kita habiskan hidup melakukan hal yang sama dengan orang-orang yang lahir lebih dulu dari kita? Sekedar mengulang kembali hal yang sama, lalu mengharapkan hasil akhir yang berbeda?

Buat saya pribadi, filsafat ilmu pengetahuan telah membantu membuka mata saya lebih lebar. Bonus yang saya dapat adalah ketenangan batin. Ketika kita bisa melihat lebih luas, entah kenapa pikiran juga terasa lebih adem.

Kalau kita semua bisa fokus mengembangkan diri dengan hati yang adem, akan lebih baik, bukan?

 

Leave a Reply