Kalau Anak itu Titipan, Kenapa Dititipkan Lagi?

Sumber: zilzarlife.com
Gambar: zilzarlife.com

Saya yakin, mayoritas pasangan yang menikah ingin memiliki anak. Ada yang beruntung untuk bisa langsung dikaruniai momongan, ada yang sudah puluhan tahun masih menunggu. Kehadiran anak itu memang sangat menggembirakan. Hidup kita jadi lengkap.

Sudah cukup banyak saya dengar cerita keluarga yang masih belum memiliki keturunan. Mereka setiap hari berdoa memohon untuk bisa menikmati rejeki yang luar biasa itu. Kita percaya, kehadiran anak itu kuasa Sang Pencipta. Kita memohon untuk dititipkan. Anak itu, adalah titipan.

Lalu, ketika suatu saat kita dititipkan seorang anak, lantas bagaimana?

Beberapa puluh tahun lalu, kita masih di konsep ‘ayah mencari kerja, ibu masak di rumah’. Sang ayah banyak di luar rumah mengais rejeki, sehingga sedikit waktu untuk ketemu anak. Waktu sang ayah berangkat kerja, anak masih tidur. Ayah pulang kerja, anak sudah tidur. Waktu mereka bisa berbincang hanya Sabtu-Minggu, itupun kalau ayah tidak lembur. Untungnya, ibu masih bisa menemani sang anak setiap hari.

Seiring ekonomi makin maju, pola juga bergeser. Sang ibu mulai bergabung peran dengan ayah dalam mencari bekerja. Ada dua alternatif hal yang mendorong perubahan pola ini: dorongan ekonomi atau emansipasi. Karena peran ibu bergeser, butuh pihak lain yang mengambil peran ibu mengurus anak. Masuklah para kakek-nenek, babysitter atau day care.

Saya paham, tuntutan hidup semakin ke sini semakin berat. Tapi pertanyaannya: Kalau kita sudah memohon untuk dititipkan anak, lalu dikabulkan, kenapa lantas kita titipkan lagi? Apakah benar itu keputusan terbaik?

Buat saya, kalau memang kita percaya anak adalah titipan, keputusan terbaik adalah merawatnya sendiri. Orangtua harus turun tangan langsung, berdua. Itu adalah wujud syukur yang paling tepat atas datangnya sebuah momongan.

Sebenarnya tidak ada kewajiban untuk menikah dan punya anak jika dirasa belum mampu. Jika kita tidak bisa merawat langsung si anak nantinya, menurut saya lebih baik tidak meminta. Karunia terbaik buat orangtua, adalah anak. Karunia terbaik buat anak, adalah kehadiran orangtuanya sendiri. Toh kita juga percaya “rejeki datang dari anak”. Kalau dia sudah hadir, kita rawat sepenuh hati, maka rejeki juga hadir.

Tulisan ini masih senada dengan tulisan saya sebelumnya soal budak uang. Meski saya yakin pola pikir ini dianggap kuno di jaman sekarang, saya masih yakin ini yang paling tepat. Saya coba tuliskan, agar setidaknya menawarkan sebuah sudut pandang. Barangkali ada yang masih ragu dengan keputusannya.

Sekali lagi, saya paham sulitnya memenuhi kebutuhan hidup saat ini. Saya sudah merasakannya langsung. Namun buat saya, anak tidak cukup hanya menerima uang dari orangtuanya. Kehadiran kita secara langsung, sangat penting buat perkembangan mereka.

Pola pikir ini tidak mudah untuk dijalani, tapi menurut saya sangat pantas. Mari kita rawat dengan sepenuh hati, rejeki luar biasa yang sudah dititipkan ke kita.

Leave a Reply