Roda Hidup si Budak Uang

Source: licdn.com
Gambar: licdn.com

Saya percaya, bagaimanapun caranya, sejarah akan berputar. Mungkin akan dalam bentuk yang sedikit berbeda sesuai perkembangan jaman, tapi prinsipnya sama. Hal yang sudah pernah terjadi, akan terjadi lagi.

Dengan pemikiran itu, jika kita ingin menebak situasi negara kita di masa mendatang, kita dapat melihat negara yang sudah berlari di depan kita. Tidak perlu jauh-jauh ke negara Barat. Cukup lihat Jepang dan Singapura. Mereka sudah pernah di posisi kita, lalu kita suatu saat akan di posisi mereka. Sejarah mereka, berulang di kita, nanti.

Lalu, apa yang bisa dipetik?

Saat orang lain terpesona pada majunya negara-negara tersebut dalam bidang teknologi dan sosial ekonomi, saya justru melihat satu hal yang menurut saya memprihatinkan. Kita, dengan perkembangan kondisi ekonomi sekarang, secara tidak sadar memilih untuk menjadi budak uang.

Jepang dan Singapura sama-sama menghadapi masalah yang sama, yaitu rendahnya tingkat kelahiran (sumber: Jepang & Singapura). Yang muda terlalu sibuk bekerja, sampai-sampai tidak tertarik untuk berumah tangga atau memiliki keturunan. Lalu bagaimana dengan yang sudah tua? Sama, mereka juga ikut mencari kerja. Semua itu demi mengejar satu hal: uang.

Pada era perbudakan, majikan membeli budak, lalu mempekerjakannya dengan upah, makanan dan tempat tinggal. Selang waktu tertentu, budak bisa bebas dengan cara kabur, dilepas atau membayar. Setelah bebas, mereka tidak terlalu tahu harus berbuat apa. Tidak jarang mereka akhirnya kelaparan, kemudian menyesal danĀ kembali ke majikannya lagi.

Di jaman sekarang, orang-orang menghabiskan hidupnya dari pagi sampai pagi bekerja mencari uang. Pada umumnya, uang yang dicari banting tulang itu hanya mampu membayar makan dan tempat tinggal. Selang waktu tertentu, kita pensiun. Ironisnya, setelah pensiun kita tetap harus bekerja lagi karena banyak tagihan yang harus dibayar.

Sudah lihat kesamaan antara keduanya?

Dulu, di negara kita, hanya Ayah yang mencari uang. Ibu bisa di rumah, merawat anak. Sekarang, keduanya harus bekerja. Anak ditinggal di kakek neneknya, atau di babysitter. Kita sibuk menghadirkan uang di depan kita, sampai lupa bahwa metode itu hanya menenggelamkan kita dalam rutinitas yang sama. Kita sedang menuju ke sana. Kita semakin menjadi budak uang. Semakin kita mencari uang, semakin kita tidak menikmati yang harusnya kita nikmati: kebersamaan sebuah keluarga.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan?

Soal apa yang harus dilakukan, itu kembali ke masing-masing. Saya sendiri memilih jalan bisnis karena menurut saya, saya lebih bisa mengendalikan nasib saya sendiri. Kendatipun saya punya karyawan, saya tidak memaksa mereka untuk bekerja jauh di luar jam kerja normal. Mereka juga punya keluarga yang harus mereka temui. Siapapun orangnya, berhak (dan malah wajib) menikmati indahnya keluarga. Tidak ada uang sebanyak apapun yang bisa membeli momen makan bersama keluarga yang lengkap, di meja makan rumah.

Tulisan ini saya buat sebagai alternatif sudut pandang. Saya sadar, sudut pandang ini sekarang mungkin dipandang kuno. Mungkin dianggap tidak adaptif terhadap kebutuhan sekarang yang semakin mahal. Tidak keren. Akan tetapi, saya sudah memegang sudut pandang ini selama hampir sepuluh tahun. Semakin ke sini malah semakin kuat.

Saya menolak kalau harus diatur seumur hidup oleh uang. Saya akan perjuangkan seumur hidup saya untuk itu. Saya berhak menikmati waktu bersama keluarga. Keluarga saya berhak menikmati kehadiran saya di dalamnya.

Pilihan hidup ada di tangan kita sendiri.

Leave a Reply