Mau Idealis atau Mau Bisnis?

Source: quotefancy.com
Gambar: quotefancy.com

Mau idealis atau mau bisnis?

Pertanyaan itu pernah diajukan seorang teman kepada saya. Pertanyaannya singkat, tapi benar-benar menempel di benak saya sampai hari ini.

Untuk menjelaskan maksud pertanyaan tadi, saya coba kasih beberapa ilustrasi terlebih dahulu.

Mungkin kamu pernah lihat kedai makanan yang kumuh, panas, sempit, rasa makanannya biasa saja, tapi ramainya luar biasa. Ternyata, pelanggannya adalah mahasiswa, yang mencari makanan murah tapi mengenyangkan.

Mungkin juga kamu pernah lihat kedai makanan yang harganya mahal, pelayannya tidak ramah, tapi juga ramai. Ternyata, pelanggannya adalah orang tua yang tidak perduli harga, asalkan makanannya enak dan bersih.

Di tempat lain, mungkin juga kamu pernah lihat restoran/cafe yang harga makanannya mahal tapi rasa tidak enak. Ternyata, pelanggannya adalah anak muda kalangan menengah ke atas yang sekedar butuh tempat nongkrong lama.

Nah, dari ketiga contoh di atas, apa yang bisa dipetik? Ternyata, yang dicari orang itu berbeda-beda. Konsumen datang ke rumah makan tidak melulu mencari makanan enak. Kadang juga sekedar cari tempat nongkrong atau cari makanan yang murah. Tempat-tempat makan tadi menjawab permintaan yang ada. Sekedar perwujudan sederhana dari hukum permintaan dan penawaran.

Sekarang, kembali ke teman saya tadi.

Saya sedang di warung teman saya pada saat obrolan itu berlangsung. Jadi ceritanya, mereka menjual makanan ayam goreng dengan sambel yang super pedas. Seharusnya, menurut dia, sambel aslinya jauh lebih pedas dari yang dia jual. Namun, berhubung mereka jualan di Bandung, mau tidak mau mereka harus menyesuaikan dengan lidah lokal. Jadilah kadar pedasnya dikurangi.

Saat itulah muncul pertanyaan tadi: “mau idealis atau mau bisnis?”

Begitu dia tahu bahwa selera lidah di Bandung tidak cocok dengan tingkat kepedasan yang dia mau, dia langsung menyesuaikan. Dia memilih langsung ke bisnis, tidak ngotot idealis. Kalau meminjam istilah-istilah di media, teman saya itu menganut “idealisme pasar”. Apa yang pasar mau, langsung dijawab. Tidak berusaha mengubah selera pasar.

Berdasarkan pengamatan saya, sah-sah saja jika kita punya idealisme yang tinggi terhadap produk kita. Asalkan kita bisa pastikan bahwa memang ada konsumen yang membutuhkannya. Minimal, kita bisa meyakinkan pasar bahwa produk kita layak dikonsumsi.

Seperti contoh tadi, kalau memang selera konsumen sebenarnya adalah pedas ‘level 3’, tidak perlu kita repot-repot menawarkan pedas ‘level 10’. Tidak ketemu. Kalau permintaan dan penawaran tidak ketemu, angka penjualannya menjadi tidak signifikan.

Memang, saya juga ada melihat beberapa usaha yang ngotot idealis. Demi mengubah pola pikir pasar, mereka habiskan biaya cukup banyak untuk edukasi pasar. Pada umumnya jenis-jenis usaha ini punya misi lebih besar, misalnya pemeliharaan lingkungan hidup.

Sebagai contoh, lihat saja pabrik-pabrik mobil listrik yang berusaha meyakinkan konsumen bahwa mobil berbahan bakar fosil tidak baik. Tujuan mereka baik, tapi dibutuhkan biaya yang besar dan waktu yang banyak untuk meyakinkan konsumen potensial mereka.

Pada akhirnya, kembali lagi ke tujuan kita masing-masing dalam berbisnis. Apakah murni memutar uang, atau ada misi lebih besar yang ingin dicapai? Apakah kita ingin mengikuti pasar, atau berusaha mengendalikan pasar? Atau, bisa ketemu satu titik di tengah-tengahnya?

Masing-masing pilihan ada plus dan minusnya. Tapi ya, memang semuanya juga begitu kan?

Leave a Reply